Anak Mudah Marah Saat Belajar? 7 Respons Tenang dari Orang Tua

Anak Jadi Mudah Marah Saat Belajar? Kita Tidak Sendiri

Melihat anak mudah marah, membentak, atau menangis saat belajar memang menguras emosi. Kadang kita sudah lelah sepulang kerja, lalu menemani anak mengerjakan PR, tiba-tiba buku dilempar, pensil dipatahkan, atau ia menangis karena merasa “nggak bisa-bisa”. Situasi ini wajar membuat Ayah/Bunda ikut kesal, sedih, bahkan merasa gagal.

Di sinilah kita perlu memahami cara orang tua menghadapi anak mudah marah saat belajar tanpa menyalahkan anak maupun diri sendiri. Emosi yang meledak saat belajar sering kali bukan tanda anak “nakal”, tetapi sinyal bahwa ia sedang kewalahan dan belum punya cara sehat untuk mengungkapkannya.

Melalui artikel ini, kita akan membahas pemicu umum, membedakan marah dan frustrasi, serta 7 langkah praktis yang bisa membantu menenangkan anak dan menjaga hubungan tetap hangat, sambil proses belajar tetap berjalan.

Kenapa Ini Bisa Terjadi?

Sebelum mencari solusi, penting untuk memahami dulu: apa yang sebenarnya terjadi di balik emosi anak? Beberapa pemicu yang sering muncul:

  • Kelelahan fisik dan mental – Pulang sekolah, les, lalu masih mengerjakan PR. Anak yang capek cenderung lebih mudah tersulut emosinya.
  • Kesulitan belajar tertentu – Misalnya kesulitan membaca, berhitung, atau memahami instruksi. Saat otak bekerja keras tapi hasilnya belum tampak, rasa frustrasi bisa muncul.
  • Perfeksionisme – Ada anak yang merasa “harus selalu benar”. Saat salah sedikit, ia merasa gagal, malu, atau takut dimarahi.
  • Tekanan dan perbandingan – Komentar seperti “Adikmu saja bisa, masa kamu nggak?” bisa terasa berat bagi anak, meski kita mengucapkannya dengan nada bercanda.
  • Kondisi emosi yang sedang sensitif – Mengantuk, lapar, atau sedang ada masalah dengan teman juga bisa membuat anak lebih mudah meledak saat belajar.

Jadi, ketika anak tantrum saat mengerjakan PR, sering kali itu adalah cara tubuh dan pikirannya berkata, “Aku kewalahan.” Bukan semata-mata ia menolak belajar.

Tanda-tanda yang Sering Muncul

Setiap anak berbeda, tetapi ada beberapa pola reaksi yang sering tampak saat emosi belajar mulai memanas. Ini bukan diagnosis, hanya pola kebiasaan yang bisa kita waspadai:

  • Bahasa tubuh tegang – Menggenggam pensil terlalu kuat, mengetuk meja berulang, menghela napas panjang, atau mengernyitkan dahi terus-menerus.
  • Mulai mengeluh berulang – “Susah…”, “Aku nggak bisa…”, “Kenapa sih susah banget?”, bahkan sebelum mencoba.
  • Meninggikan suara – Nada bicara berubah lebih keras, membantah, atau menolak instruksi sederhana.
  • Menunda dan menghindar – Bolak-balik ke kamar mandi, memainkan penghapus, membuka-buka buku lain, atau tiba-tiba ingin makan sesuatu.
  • Tangisan dan ledakan emosi – Menangis, berteriak, memukul meja, melempar alat tulis, atau menolak melanjutkan PR.

Di sinilah kita perlu membedakan: marah dan frustrasi. Marah biasanya tampak sebagai ledakan ke luar (membentak, melempar). Frustrasi lebih pada rasa terjebak, bingung, dan merasa “nggak mampu”, yang kadang akhirnya juga meledak sebagai kemarahan. Keduanya butuh respons yang menenangkan, bukan tambahan bentakan.

Strategi Praktis yang Bisa Dicoba

Berikut 7 langkah cara menenangkan anak saat belajar yang bisa kita terapkan secara bertahap. Tidak harus sempurna, yang penting konsisten mencoba.

1. Co-regulation: Tenangkan Diri Kita Dulu, Baru Menenangkan Anak

Emosi itu menular. Ketika anak tinggi emosi, lalu kita ikut tinggi, situasi akan makin memanas. Co-regulation berarti: orang tua membantu menenangkan emosi anak dengan terlebih dahulu menenangkan diri sendiri.

  • Tarik napas pelan 3 kali sebelum merespons.
  • Bisa berkata pada diri sendiri, “Oke, dia lagi kesulitan, bukan melawan aku.”
  • Gunakan suara lebih pelan, tapi tegas dan hangat.

Kita boleh berkata pada anak, “Mama juga capek, tapi kita coba pelan-pelan bareng, ya.” Nada tenang dari kita adalah “jangkar” emosi yang menstabilkan suasana.

2. Jeda Terstruktur: Istirahat Singkat yang Disepakati

Saat emosi mulai memuncak, memaksa anak terus mengerjakan justru sering membuatnya makin marah. Coba gunakan jeda terstruktur:

  • Sepakati di awal: “Kalau kamu mulai pusing atau kesal, kita boleh istirahat 5 menit, ya.”
  • Gunakan timer sederhana agar jelas kapan jeda berakhir.
  • Isi jeda dengan aktivitas menenangkan: minum air putih, peregangan ringan, tarik napas.

Mini latihan 5 menit: Coba praktikkan hari ini satu sesi belajar dengan pola 15 menit belajar – 5 menit istirahat. Amati, apakah anak lebih mudah diajak kerja sama?

3. Beri Pilihan Terbatas Agar Anak Merasa Punya Kendali

Anak yang merasa “dipaksa” sering lebih mudah marah. Dengan memberi pilihan terbatas, ia merasa lebih punya kendali atas proses belajarnya.

  • “Kamu mau mulai dari matematika dulu atau bahasa Indonesia dulu?”
  • “Mau Mama duduk di sebelahmu atau di kursi seberang sini?”
  • “Mau kita kerjakan 3 nomor dulu, atau 5 nomor dulu?”

Pilihan yang jelas dan terbatas membantu anak merasa dihargai, tanpa membuat aturan belajar menjadi liar.

4. Gunakan Bahasa yang Tidak Menghakimi

Kata-kata yang terdengar sepele bagi kita, bisa terasa berat bagi anak. Hindari kalimat yang menyalahkan, misalnya:

  • “Kamu tuh malas sekali!”
  • “Kok gitu aja nggak bisa?”
  • “Coba lihat temanmu, mereka bisa.”

Ganti dengan kalimat deskriptif dan empatik:

  • “Kelihatannya kamu lagi kesal sama soal ini, ya?”
  • “Bagian mana yang paling bikin bingung? Kita lihat bareng, yuk.”
  • “Nggak apa-apa pelan-pelan. Salah itu bagian dari belajar.”

Bahasa yang tidak menghakimi membantu anak belajar mengamati emosinya, bukan merasa dirinya gagal.

5. Bantu Memecah Tugas Jadi Langkah Kecil

Sering kali, anak tantrum saat mengerjakan PR karena tugas terasa terlalu besar. Kita bisa membantu dengan memecahnya:

  • Kalau ada 20 soal, bagi jadi 4 kelompok isi 5 soal.
  • Beri garis atau sticky note untuk menandai “bagian 1”, “bagian 2”, dan seterusnya.
  • Setiap selesai satu bagian kecil, beri waktu 1–2 menit untuk bernapas atau meregangkan badan.

Kita bisa berkata, “Kita nggak kerjakan 20 soal sekaligus, kok. Kita taklukkan 5 soal dulu. Setelah itu baru lanjut lagi.” Ini membuat tugas tampak lebih “masuk akal” di mata anak.

6. Fokus pada Pujian Proses, Bukan Hanya Hasil

Untuk anak yang perfeksionis, nilai atau hasil benar-salah bisa menjadi sumber tekanan. Coba alihkan fokus pada proses:

  • “Mama lihat kamu sudah berusaha baca soal ini dua kali, itu keren.”
  • “Tadi kamu mau mencoba cara lain, itu tanda kamu nggak menyerah.”
  • “Meski masih salah, langkahmu sudah lebih rapi daripada kemarin.”

Pujian proses membuat anak merasa dihargai karena usahanya, bukan hanya karena nilai. Ini membantu membangun growth mindset: keyakinan bahwa kemampuan bisa berkembang dengan latihan, bukan sesuatu yang “bakat bawaan” semata.

7. Refleksi Singkat Setelah Emosi Reda

Saat badai emosi sudah lewat dan suasana tenang, luangkan 3–5 menit untuk refleksi ringan:

  • Tanya dengan lembut, “Tadi pas kamu marah, apa yang paling bikin kesal?”
  • Ajari anak mengenali sensasi tubuh: “Tadi jantung berdebar? Tangan gemetar?”
  • Bersama-sama cari strategi: “Besok kalau mulai kesal lagi, kita mau istirahat 5 menit atau mau minta Mama jelaskan pelan-pelan?”

Refleksi singkat seperti ini membantu anak pelan-pelan belajar mengelola emosinya sendiri, bukan hanya “dimarahi” setiap kali marah.

Kalau Ayah/Bunda tertarik menambah sudut pandang lain, kadang wawasan grafologi untuk memahami kebiasaan belajar juga bisa menjadi bahan refleksi tambahan tentang gaya menulis dan kecenderungan pola belajar anak. Tentu saja ini hanya sebagai wawasan, bukan pengganti evaluasi profesional.

Kapan Perlu Bantuan atau Pendampingan?

Setiap keluarga punya ritme dan tantangan masing-masing. Namun, ada beberapa kondisi yang bisa menjadi tanda kita perlu mempertimbangkan bantuan profesional (psikolog pendidikan, konselor sekolah, atau ahli terkait):

  • Kemarahan anak saat belajar muncul hampir setiap hari dan makin intens.
  • Anak sampai menyakiti diri sendiri atau orang lain (memukul keras, membanting barang secara ekstrem).
  • Perubahan perilaku lain: sulit tidur, sering mengeluh sakit perut/kepala saat jam belajar, menarik diri dari aktivitas yang biasanya ia sukai.
  • Nilai akademik turun drastis dan anak tampak kehilangan minat belajar sama sekali.
  • Ayah/Bunda merasa sangat lelah, bingung, dan konflik di rumah menjadi semakin sering.

Mencari bantuan bukan berarti kita gagal sebagai orang tua. Justru itu tanda bahwa kita peduli dan mau belajar cara baru untuk mendampingi anak.

Penutup: Kita Belajar Bersama, Bukan Hanya Anak

Mendampingi anak yang mudah marah saat belajar memang menantang. Namun, dengan memahami pemicu emosi, membedakan marah dan frustrasi, serta menerapkan langkah seperti co-regulation, jeda terstruktur, pilihan terbatas, bahasa yang tidak menghakimi, memecah tugas, memuji proses, dan refleksi singkat, pelan-pelan suasana belajar di rumah bisa menjadi lebih hangat.

Ingat, cara orang tua menghadapi anak mudah marah saat belajar bukan tentang menjadi orang tua yang sempurna, tetapi tentang terus berusaha hadir dengan lebih tenang, lebih peka, dan lebih mau belajar. Setiap sesi belajar adalah kesempatan baru, bagi anak untuk mengasah kemampuan, dan bagi kita untuk mengasah kesabaran serta cara mendampingi.

Pelan-pelan saja. Hari ini mungkin masih ada tangis dan marah, tapi dengan langkah kecil yang konsisten, kita sedang membangun anak yang lebih mandiri secara emosi dan lebih percaya diri menghadapi tantangan belajar.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Mengapa pemahaman diri penting dalam pendidikan?

Karena mengenal diri membantu siswa belajar dengan lebih sadar dan terarah.

Apakah tes psikologi menentukan masa depan anak?

Tes psikologi memberikan gambaran potensi, bukan vonis masa depan.

Apakah stres belajar selalu berdampak negatif?

Stres ringan dapat memicu motivasi, tetapi stres berlebih perlu dikelola agar tidak berdampak buruk.

Apakah anak introvert bisa berprestasi?

Tentu. Anak introvert sering unggul dalam fokus dan analisis mendalam.

Bagaimana membangun kepercayaan diri akademik anak?

Dengan apresiasi proses, bukan hanya hasil.

Previous Article

Susah Fokus Belajar di Rumah? Coba Teknik Pomodoro yang Realistis

Next Article

Remaja Mudah Meledak? Panduan Tenang Mengelola Emosi